🐎 Mengapa orang Mongol menulis dalam dua aksara berbeda

Mongolia menggunakan Sirilik; Mongolia Dalam (Tiongkok) menggunakan aksara vertikal turunan Uyghur yang diadopsi Jenghis Khan pada 1206. Pemisahan terjadi pada 1946, bukan 1206 — Stalin memaksakan pergantian. Kebijakan 2020 Tiongkok untuk mengurangi pendidikan berbahasa Mongolia memicu protes terbesar di Mongolia Dalam dalam beberapa dekade.

Tag: mongolia script cyrillic sinosphere inner-mongolia history

Satu bangsa, dua aksara

Setiap papan nama Mongolia di Ulaanbaatar tertulis dalam Kiril. Setiap papan nama Mongolia di Hohhot (Mongolia Dalam, Cina) memperlihatkan aksara tegak yang mengalir, ditulis dari atas ke bawah dalam kolom-kolom yang maju dari kiri ke kanan. Kedua kelompok penduduk itu berbagi satu asal-usul, satu rumpun bahasa, dan satu wiracarita — Sejarah Rahasia Bangsa Mongol — tetapi menuliskan bahasa mereka dengan abjad yang sama sekali berbeda.

Proto-Mongolik
🗺️ Terbang ke Ulaanbaatar (Mongolia beraksara Kiril) Buka peta interaktif
Manchu
🗺️ Terbang ke Hohhot (Mongolia Dalam, aksara tradisional) Buka peta interaktif

Langkah 1: Jenghis Khan dan juru tulis Uighur (1206)

Ketika Temüjin menyatukan suku-suku Mongolia dan diproklamasikan sebagai Jenghis Khan pada kurultai besar tahun 1206, kekaisarannya sangat memerlukan sistem penulisan. Seorang kanselir dari suku Naiman yang kalah, pejabat berbahasa Uighur bernama Tatatunga, tertawan — dan kebetulan pandai menulis. Jenghis Khan memerintahkannya mengajari para pangeran Mongolia aksara Uighur Kuno dan menyesuaikannya dengan bunyi-bunyi bahasa Mongolia.

Bichig Mongolia (aksara Mongolia) yang lahir dari situ ditulis tegak, dari atas ke bawah, dalam kolom yang bergerak dari kiri ke kanan — keganjilan yang diwarisi dari aksara Sogdiana lewat Uighur. Aksara itu masih dipakai hari ini di Mongolia Dalam dan menjadi aksara resmi wilayah tersebut, berdampingan dengan aksara Cina pada semua papan dan dokumen resmi.

📍 Bahasa Manchu di peta — Manchu 📍 Rekonstruksi Proto-Mongolik — Proto-Mongolik

Langkah 2: selingan aksara Phags-pa (1269–1368)

Keberagaman kekaisaran Mongol membuat aksara turunan Uighur karya Tatatunga tak memadai untuk menuliskan bahasa Cina, Tibet, Sanskerta, atau Persia. Pada 1269, Kubilai Khan menugasi biksu Tibet Phags-pa merancang aksara universal. Aksara Phags-pa (八思巴文) yang dihasilkan adalah abjad berbentuk blok yang sanggup menuliskan hampir semua bahasa secara fonetis. Aksara itu dipakai pada meterai dan maklumat kekaisaran sepanjang Dinasti Yuan, dan sejumlah sarjana — terutama Gari Ledyard — berpendapat bahwa ia memengaruhi rancangan hangul Korea (1443), meski hal itu masih diperdebatkan. Ketika Dinasti Ming mengusir bangsa Mongol pada 1368, Phags-pa lenyap dari pemakaian kekaisaran, tetapi Bichig Mongolia berlanjut tanpa terputus.

Langkah 3: gunting Stalin (1946)

Memasuki abad ke-20, Republik Rakyat Mongolia (Mongolia sekarang) adalah satelit Soviet. Pada Februari 1941, Moskwa menekannya beralih dari aksara Mongolia tradisional ke abjad Latin — lalu membatalkan keputusan itu dalam hitungan pekan, pada 25 Maret 1941, dan memberlakukan Kiril sebagai gantinya, wajib untuk semua dokumen resmi sejak 1 Januari 1946. Alasan yang dikemukakan adalah menyelaraskan keaksaraan Mongolia dengan infrastruktur percetakan Soviet; akibat sesungguhnya adalah memutus generasi terdidik Kiril dari kemampuan langsung apa pun untuk membaca teks sebelum 1946, sastra klasik, atau prasasti batu kekaisaran-kekaisaran Mongol.

Sementara itu Mongolia Dalam tetap berada di bawah Republik Cina lalu Republik Rakyat Cina, yang keduanya mengizinkan — dan pada masa-masa tertentu bahkan giat mendorong — pemakaian berkelanjutan aksara Mongolia tradisional. Hasilnya: satu komunitas bahasa yang dipisahkan oleh perbatasan politik menjadi dua tradisi keaksaraan yang sepenuhnya berbeda.

Langkah 4: protes 2020

Pada musim panas 2020, RRC menerbitkan pedoman kurikulum baru yang mewajibkan bahasa Mandarin menggantikan bahasa Mongolia sebagai bahasa pengantar pada pelajaran politik, sejarah, dan bahasa di sekolah-sekolah Mongolia Dalam — kebijakan yang tahun-tahun sebelumnya sudah diterapkan pada sekolah berbahasa Tibet dan Uighur. Reaksinya cepat dan belum pernah terjadi: orang tua memboikot sekolah, murid keluar dari kelas, dan warga di seluruh Mongolia Dalam menggelar demonstrasi. Para pengunjuk rasa mengangkat papan beraksara Mongolia tradisional yang bertuliskan bahwa mereka sedang berjuang demi kelangsungan budaya dan bahasa mereka.

ManchuProto-Mongolik
🗺️ Mongolia Dalam — wilayah protes 2020 Buka peta interaktif

Kebangkitan di Mongolia

Sejak revolusi demokrasi 1990, Mongolia secara resmi berkomitmen menghidupkan kembali keaksaraan dalam aksara tradisional berdampingan dengan Kiril. Papan nama jalan di Ulaanbaatar kini kadang menyertakan aksara Mongolia tegak. Tenggat 2025 ditetapkan untuk mengembalikan aksara tradisional ke status ko-resmi, dan tenggat itu ditepati: sejak 1 Januari 2025 Undang-Undang Bahasa Mongolia mengharuskan dokumen pemerintah pusat dan daerah ditulis dalam Kiril sekaligus Bichig Mongolia, dengan transisi penuh ditargetkan pada 2030. Kemajuannya lambat: sebagian besar orang Mongolia di bawah 60 tahun tak dapat membaca aksara yang mereka pakai selama tujuh abad sebelum perintah Stalin. Namun generasi mudanya sedang mempelajarinya — sebagian karena bangga, sebagian karena aksara Mongolia tradisional adalah satu-satunya jalan membaca kata-kata Jenghis Khan sebagaimana juru tulisnya sendiri menuliskannya.

Selama protes 2020, para peserta berulang kali menautkan pemakaian berkelanjutan aksara tradisional dengan kesinambungan budaya Mongolia dan hak berbahasa.

Sumber

Bacaan terkait

Lihat juga: Bacaan · Word Map — 30 kata inti · Han Map — Bacaan aksara Han

Buka peta interaktif: Word Map · HanMap · Name Map · Word Order · Tree

Bagian dari LangMap — proyek visualisasi linguistik. Ini ringkasan statis yang dapat dirayapi; peta interaktif menyediakan audio pelafalan, filter, dan tampilan globe.

Dibuat oleh Heuron Inc. · GitHub · cho@heuron.com · Beranda LangMap